Bincang Ahli: Apa dan untuk apa Tes IQ?

Beda usia anak, tentu beda ya Ma tantangannya. Dulu mungkin pusing masalah MPASI. Kalau sekarang, semakin anak tumbuh besar, mungkin kita mulai dipusingkan dengan urusan sekolah anak. Yang sedang mencari Sekolah Dasar mungkin mulai familiar dengan Tes IQ. Atau, yang sedang memikirkan bagaimana menstimulasi anak sesuai bakat dan minatnya, juga mungkin sempat mempertimbangkan untuk Tes IQ. 


Sayangnya, Tes IQ cukup mahal ya Ma harganya. Jadi, sayang rasanya kalau ikut Tes IQ tanpa tahu betul apa sih yang diukur oleh Tes IQ dan apa gunanya. Nah, biar Mama-mama semakin paham apa dan untuk apa sih tes IQ itu, simak yuk hasil obrolan kami dengan Psikolog Anak, Mbak Farraas Afiefah.

 

Jenis Tes IQ yang tersedia di Indonesia 

Sejauh ini, ada dua alat Tes IQ yang banyak digunakan di Indonesia, yaitu Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) dan Stanford-BinetStanford-Binet kebanyakan digunakan untuk anak-anak dengan masalah intelegensi. 


Nah, karena dikembangkan di negara barat, menurut Mbak Farraas, ada kekurangannya. Misalnya, contoh-contoh yang dipakai dalam soal mungkin tidak familiar di budaya kita. Selain itu, WISC yang dipakai di Indonesia masih versi awal (1970an). Meskipun begitu, Mbak Farraas meyakinkan bahwa hasil tes-nya masih cukup baik untuk membandingkan antara anak Mama dengan anak-anak seusianya. 


Selain kedua alat ukur di atas, Universitas Gadjah Mada mengembangkan Tes Kognitif AJT. Menurut pihak UGM, alat tes ini sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia, Ma. Tapi, sayangnya, Mbak Farraas pribadi belum pernah menggunakan alat tes ini. Jadi, informasi yang kami miliki baru sebatas ini. 

 
Tes IQ digunakan untuk menegakkan diagnosis 

Perlu ada alasan jelas antuk Psikolog Anak melakukan Tes IQ. Yaitu, untuk memastikan diagnosis bagi anak-anak yang diduga memiliki kebutuhan khusus, Ma. Bisa karena anaknya diduga memiliki disabilitas intelektual, atau berbakat (gifted). 

Kadang Tes IQ membantu juga untuk mengenali kekuatan anak di area apa, kelemahannya di area apa.  Karena tes-nya lumayan lama ... itu bisa kelihatan kalau anaknya misal hiperaktif, atau memang gak suka belajar, dll.

Kebanyakan orang tua yang meminta diberikan tes IQ adalah karena permintaan sekolah. Misalnya nih kalau anak Mama mau masuk SD sebelum usia minimum (kurang dari 7 tahun). Atau, hasil Tes IQ diperlukan oleh sekolah sebagai bukti penunjang. Yang seperti ini biasanya agar anak mendapatkan bantuan khusus di sekolah (misal: diberi Shadow Teacher, dibebaskan dari UAN, dst.). 


Jadi, gak bisa iseng-iseng ya Ma minta Tes IQ ke Psikolog. 

 
Tes IQ idealnya dilakukan secara individual 

Saat ini di Jakarta, misalnya, harga sekali Tes IQ sekitar Rp 500.000,- hingga Rp 1.000.000,- per orang. Kok bisa mahal banget ya? Karena, menurut Mbak Farraas, memang idealnya Tes IQ dilakukan secara individual, apalagi untuk anak usia prasekolah. Jadi, pengetesan dilakukan oleh Psikolog kepada satu orang anak saja. Waktunya pun cukup lama, Ma, sekitar dua sampai tiga jam.


Agar biayanya lebih murah, ada Tes IQ yang dilakukan secara bersama-sama. Biasanya di sekolah, Ma. Nah, menurut Mbak Farraas, tes IQ yang dilakukan bersamaan seperti itu, rentan sekali mempengaruhi hasil tes anak. Bisa jadi anak kesulitan memahami instruksi yang diberikan atau tidak nyaman karena kondisi tes yang asing. Selain itu, Psikolog pun tidak bisa mengamati dengan baik perilaku anak saat mengerjakan tes. 

 

Tidak semua area inteligensi terukur dengan Tes IQ

Tes IQ hanya mengukur sebagian dari inteligensi anak, Ma. Alat tes WISC, misalnya, mengukur secara umum kemampuan kognitif anak. Termasuk di dalamnya kemampuan anak bernalar, aritmatik, perbendaharaan kata, dan memahami konsep abstrak. Selain itu, alat ukur ini juga didominasi oleh tes-tes verbal. Jadi, menurut Mbak Farraas, kemampuan anak di area non kognitif dan praktis, seperti kemampuan sosial dan interpersonal, bekerja sama, menggambar, bermusik, atau memasak tidak akan terukur. 


Sampai di sini lebih kebayang ya Ma kalau Tes IQ pada umumnya lebih cocok digunakan untuk anak minimal usia TK dan hanya jika memang diperlukan. Gak kebayang kalau anak balita harus duduk manis lebih dari 20 menit. Apalagi kemampuan berbahasa anak di usia sebelum TK lebih terbatas.

 
Akurasi Tes IQ rentan dipengaruhi kondisi anak 

Tidak perlu panik berlebih ya Ma kalau ternyata hasil Tes IQ anak 'kurang baik'.  Seperti yang sudah dijelaskan Mbak Farraas di atas, Tes IQ hanya mengukur kemampuan kognitif anak, Ma. Sedangkan kemampuan-kemampuan lain yang juga berguna untuk kesuksesan anak di masa depan tidak ikut terukur. 


Yang penting untuk Mama tahu juga adalah akurasi Tes IQ mungkin sekali dipengaruhi oleh kondisi anak saat tes. Misalnya anak mengantuk, mudah cemas, atau perlu waktu untuk adaptasi dengan situasi baru. Apalagi jika tes-nya dilakukan bersama-sama. Bisa banget, Ma, anak tidak menjawab pertanyaan dengan baik karena tidak paham maksud soalnya tapi malu bertanya. Jadi, sebaiknya hasil tes IQ didiskusikan dengan Psikolog ya, Ma. Supaya tidak salah dalam mengambil kesimpulan.


Nah, hasil Tes IQ itu juga harusnya cukup stabil Ma. Jadi, hasil tahun ini dengan hasil lima tahun ke depan tidak akan banyak berbeda. 

Kalau kondisi saat tes optimal dan hidup anak tidak terlalu berubah, harusnya skor IQ tidak akan jauh berbeda. Tapi, saya pernah punya klien yang beda banget karena ada masalah keluarga, anak jadi minim stimulasi, jadi skor IQ-nya menurun.


Lalu, bagaimana cara mengenali perkembangan intelegensi anak usia dini?

Menurut Mbak Farraas, inteligensi itu bisa diartikan juga sebagai kemampuan beradaptasi anak dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Jadi, untuk mengetahui tingkat inteligensi anak secara garis besar, Mama bisa menggunakan kuesioner skrining perkembangan anak, yang salah satunya tersedia di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Dari pengalaman saya menangani klien, untuk anak usia dini ya terutama, hasil Tes IQ cukup sejalan kok dengan hasil skrining perkembangan. Kalau perkembangan anak setara dengan usianya, kemungkinan besar skor IQ-nya berada di kategori rata-rata.

Mbak Farraas berpesan, bahwa yang penting untuk orang tua tahu adalah apakah anak mengalami ketertinggalan di area tertentu. Untuk skrining mandiri, tidak perlu terlalu detail ya, Ma.


Nah, jika Mama curiga ada gangguan perkembangan pada anak, Mama bisa berkosultasi. Yang terdekat adalah ke sekolah (jika anak sudah sekolah) atau Puskesmas. Menurut panduan dari Kementerian Kesehatan, Guru PAUD/TK dan Puskesmas sudah dibekali dengan beberapa alat tes deteksi dini penyimpangan perkembangan, loh Ma. Seperti kuesioner pra skrining perkembangan, formulir gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH), Tes Daya Lihat, Tes Daya Dengar, Kuesioner Masalah Perilaku Emosional, dan Modified-Checklist for Autism in Toddlers. Atau, Mama juga bisa langsung berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak atau Psikolog Anak.

 



Semoga bincang-bincang kami membantu Mama-Mama memahami lebih baik tentang Tes IQ di Indonesia dan intelegensi anak secara umum ya. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, bisa langsung daftar konsultasi daring maupun tatap muka dengan Mbak Farraas melalui Tiga Generasi atau Arsanara 😉 

 

Nantikan juga bincang-bincang kami selanjutnya mengenai mengenali dan menstimulasi minat dan bakat anak di usia dini ya!

 


Cheers,


Narasumber: Farraas Afiefah Muhdiar

Penulis: Mirza Annisa Izati

 

0 Comments